Banner

Breaking News

Kalimat Tauhid dan Tewasnya Suporter Sepakbola




Oleh: KH Ahmad Iftah Shidiq

Miris. Melihat video kekerasan antarsuporter sepakbola yang berujung kematian salah seorang diantaranya.

Namun tak hanya adegan kekerasan yang menyesakkan, tapi juga terdengar kalimat tauhid yang diteriakkan bersahutan sembari mengeroyok seorang pendukung tim lawan hingga tewas mengenaskan.

Iki Opo? Salah kaprah. Edan temenan!

Seringnya takbir dan tahlil diteriakkan di ruang-ruang publik dalam situasi yang tidak tepat, membangun persepsi yang salah tentang kalimat suci tersebut.

Demo bernuansa politis, kampanye politik, dan aksi-aksi untuk kepentingan golongan tertentu yang mengatasnamakan agama seringkali memperdengarkan kalimat-kalimat suci.

Karenanya, dengan mudah dan murah kalimat itu kini diteriakkan untuk memprovokasi massa, menghujat orang lain, bahkan (dalam konteks suporter kemarin) untuk membunuh.

Saya tidak habis pikir, apa yang terlintas di benak mereka yang memukuli, menendang, menginjak kepala, memukul korban yang sudah berdarah-darah sembari melantunkan kalimat tauhid?

Apakah membunuh suporter tim lawan juga sudah mereka anggap sebagai bagian dari jihad fii sabilillah, sebagaimana mereka yang menolak menshalatkan jenazah tetangganya yang berbeda pilihan dalam Pilkada?

Apa mereka lupa bahwa kalimat takbir itu bermakna hanya Allah-lah Tuhan yang perlu diagungkan dengan lidah, hati, sikap, dan perbuatan.

Konsekuensinya harus diikuti dengan menganggap kecil selain Allah. Terlebih dirinya sendiri, alih-alih untuk melakukan kamuflase pemujaan atas nafsunya.

Mereka lupa bahwa kalimat tauhid itu memiliki makna tiada yang dicari kecuali Allah (laa mathluba illalLah), tiada tujuan kecuali Allah (laa maqshuda illalLah), tidak ada yang disembah kecuali Allah (laa ma'buda illalLah), dan tiada yang benar-benar eksis kecuali hanya Allah (laa maujuda illalLah).

Mereka lupa bahwa seharusnya mengucapkan kalimat tauhid harus disertai denganmenafikan penuhanan terhadap ego, ambisi kemanusiaan, syahwat dunia, kebencian, dendam, kesumat, atau nafsu angkara.

Mungkin mereka juga lupa bahwa para ulama salafusshalih bertakbir, bertahlil, sembari menunduk malu kepada Allah. Merasa telanjang dengan aurat yang terlihat jelas di mata Allah.

Bukan justru diteriakkan untuk menelanjangi orang lain. Isiiiin.. Isiiiiin..

Penulis adalah Bendahara PP Lakpesdam, dan Pengasuh Pondok Pesantren Fatahillah, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Tidak ada komentar