Banner

Breaking News

Ustad Google Jadi Guru Badung


Oleh: Nur Khaifah Indah Parwansyah

Sore itu di sebuah masjid, sedang berlangsung agenda kajian rutin mingguan milik para aktivis agama di kampus.

Kebetulan aku turut di dalamnya, sebagai jamaah. Pemateri mengangkat tema kajian tersebut dengan tema Ma'rifatullah yang membuat Endah, salah satu jama'ah tertarik berdiskusi.

Pemateri tersebut akrab dipanggil dengan Ustad Eki. Dalam kajian, ia menyampaikan siapa, apa, dan bagaimana Allah. Sesuai ilmu yang dipelajarinya, ia berkata bahwa Allah berada di atas Arsy' atau bersinggasana di langit ke tujuh.

Sumber materi tersebut ia dapati lewat media sosial yang bernama Instagram. Kemudian ia memperdalamnya lewat google, aplikasi canggih di era globalisasi ini; katanya. 

Aku memiliki banyak kejanggalan dari cara ia menyampaikan nilai-nilai akidah itu. Tapi aku masih harus menunggu sesi tanya jawab. Namun pada sesi tanya jawab tersebut, aku kalah cepat dengan jama'ah yang bernama Endah.

”Ustad, jika Allah berada di atas 'Arsy maka di mana Allah sebelum Arsy' diciptakan?"

Kepalaku mengangguk-ngangguk dengan pertanyaan tersebut. Pikirku, benar juga apa yang ditanyakan si Endah itu. Tapi entah mengapa kelihatannya kok Ustad Eki malah kebingungan seperti mencari jawaban.

Aku mengira, ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan Endah yang rada filosofis itu. Tapi tidak mungkin bagi dirinya untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, hal itu pasti akan menurunkan reputasinya di hadapan jama'ah sebagai Ustad.

”Wallahualam bisshowab, Allah Maha terdahulu dan hanya Dia-lah yang mengetahui keberadaan-Nya. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana dan di mana Allah kalau sudah Alquran yang berbicara,” tegasnya.

Ustad Eki, memang orang yang terkenal dengan kepandaiannya berkata-kata. Wajar saja, meskipun dalam keadaan kebingungan ia masih tetap bisa menjawab pertanyaan.

”Tapi ustad, ustad sudah membuka jalan bagi kami untuk memikirkan-Nya,” protes Tika yang sedikit kecewa kepada jawaban melantur itu. 

Aku melihat ustad gaul itu jadi mulai gemetar seperti tak bisa menerima resiko dari apa yang sudah ia sampaikan. Endah kemudian mempertegas tanyanya kembali.

”Kemudian di mana Allah, Ustad. Sebelum Arsy' diciptakan jikalau bagi ustad Allah berada di atas Arsy?"

Endah masih begitu penasaran dan tetiba seorang jamaah lainnya mengangkat tangan, mungkin dia akan membantu Ustad Eki pikirku. Dan ustad Eki pun mempersilahkannya membuka suara. 

”Jadi begini ustad, guru saya berkata bahwa Allah itu tidak di mana-mana termasuk Allah tidak di Arsy'. Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena Allah berbeda dengan makhluknya dan tempat menunjukkan sifat makhluk. Jadi ketika ustad berusaha menyampaikan bahwa Allah di atas Arsy'Itu seperti ustad menyerupai Allah dengan makhluknya. Seperti berkata bahwa Allah membutuhkan tempat, mustahil Allah membutuhkan tempat, Ust. Justru, bukankah malah Allah yang menciptakan tempat itu sendiri? Seperti Allah menciptakan bumi untuk manusia?”

Timpal Lia yang menciptakan segaris senyuman di bibir Endah. Dan membuat ustad google itu tetap tak mau kalah. Dan ingin menang gagasan.

”Wallahualam bishshowab, saya tidak tahu mana kebenarannya. Ini sudah Al-Quran yang berbicara, itu tandanya sudah Allah langsung yang mengatakan. Kita harus meyakini ini sebagai akidah kita.”

Aku bingung, bagaimana ustad google itu bisa berkata begitu. Ia seolah mampu menafsirkan ayat-ayat Allah yang mutasyabihat, puisi terindah Allah yang dibungkus diksi terberat, hanya dengan modal kepalanya sendiri. Aku menjadi bingung, apa bedanya Ustad Eki itu dengan para liberalis?

Dia berpikir sangat radikal, dia berkata bahwa Allah berada di atas langit. Sedangkan aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan Lia, bahwa Allah-lah yang menciptakan langit. Bagaimana bisa Allah membutuhkan langit?

”Jangan tafsirkan ayat dengan kepala sendiri,  begitulah yang guru saya katakan. Karena belum tentu, maksud ayat tersebut sama dengan apa yang kita baca. Guruku juga berkata, jangan percaya orang yang belajar agama hanya modal google alias tidak memiliki guru,” bisik Lia kepadaku.

”Li, jadi akidah yang sesungguhnya itu bagaimana?” Aku memberanikan diri membuka forum di dalam forum.

”Akidah yang sesungguhnya itu adalah yang mensucikan Allah dari sifat-sifat yang mustahil ada pada-Nya. Allah serupa dengan makhluknya itu tidak mungkin.”

Endah memang murid yang sangat kritis dan idealis. Jelas saja jika pertanyaan-pertanyaannya begitu kronis. Karena dia tidak belajar dari sembarang guru. Gurunya terkenal jago Kitab Kuning.

"Besok, aku tidak ingin hadir ke majelis ini lagi. Gurunya Badung (Bala dan Dungu) tidak bisa menerima nasihat sesama. Dan selalu merasa benar, kata guruku merasa benar dan tidak bisa dinasehati itu tanda kerasnya hati. Oiya kamu jangan jadi ustad google nanti jadi badung," pungkas Endah.


Penulis adalah Kader IPPNU Bekasi Utara, Kota Bekasi

Tidak ada komentar