Banner

Breaking News

Resolusi Jihad: Jihad Dulu dan Kini



Kiai Zamakhsyari memegang pataka NU usai menerima dari Tim Kirab Resolusi Jihad PWNU Jawa Barat

Tim Kirab Resolusi Jihad Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat, tiba di Gedung NU Centre El-Sa'id, Jalan Bambu Kuning 200, Sepanjangjaya, Rawalumbu, Kota Bekasi, pada Rabu (17/8) malam.

Setibanya di lokasi, Pengurus Cabang (PC) NU Kota Bekasi menyambut dengan menyanyikan syi'ir Ya Lal Wathan. Prosesi pemberian pataka NU berlangsung khidmat, dan diterima langsung oleh Ketua PCNU Kota Bekasi KH Zamakhsyari Abdul Majid.

"Resolusi jihad itu adalah bagian dari ekspresi tanggung jawab para ulama yang mewakili umat di Indonesia, dalam rangka menunjukkan tanggung jawab terhadap kemerdekaan dan keberlangsungan NKRI," kata Kiai Zamakhsyari kepada Redaksi Media NU Kota Bekasi.

Karena Indonesia, lanjutnya, harus merdeka. Yakni terbebas dari kolonialisme untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera. Sebab jika tanpa kemerdekaan, manusia di muka bumi tidak dapat melaksanakan berbagai tugas kekhalifahan sebagai hamba Allah.

"Makanya para ulama akhirnya terdorong untuk mengeluarkan Resolusi Jihad yang menjadi salah satu media penanaman semangat membela tanah air, karena ketika itu kita sudah terdesak oleh para agressor yaitu Belanda dan Jepang," kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi ini.

Kiai Zamakhsyari saat sambutan usai menerima pataka NU

Sehingga melalui Resolusi Jihad ini, Kiai Zamakhsyari berharap dapat memicu atau mendorong, bahkan menjadi penggerak bagi setiap individu warga NU untuk ikut merasa tanggung jawab dalam mewujudkan kemerdekaan.

"Bagi kita sekarang, tinggal meneruskan saja. Kalau dulu jihad melawan penjajah, maka sekarang adalah jihad untuk mempertahankan. Termasuk jihad organisasi, yakni menjaga dan mengurus wadah para ulama, yakni Nahdlatul Ulama," katanya.

Selain itu, lanjut Kiai Zamakhsyari, jihad saat ini bertujuan untuk mempertahankan NKRI dari segala rongrongan dalam bentuk yang berbeda. Seperti misalnya media sosial yang kian marak timbul berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian di dalamnya.

"Kemudian juga berbagai rongrongan yang akan mengganggu akidah kita. Yaitu ada paham radikalisme dan terorisme yang juga merupakan ancaman bagi kita," katanya.

Ia menambahkan, warga NU juga harus melakukan jihad untuk melawan dan membentengi diri dari berbagai paham yang menyesatkan. Terutama, jihad melawan LGBT yang saat ini sedang berkembang dan bermunculan.

"Artinya, saat ini kita jihad dalam arti dapat mengendalikan nafsu kita, mengendalikan diri dari segala hal yang boleh jadi mengganggu dan merusak prinsip-prinsip dasar kita," katanya.

Foto bersama, pengurus PCNU dengan Tim Kirab Resolusi Jihad PWNU Jawa Barat

Karena NU adalah pendiri bangsa, lanjut Kiai Zamakhsyari, maka yang berkewajiban mempertahankan eksistensi Republik Indonesia harus NU. Sebab, walau bagaimana pun tidak bisa sejarah para ulama NU yang berjuang mendirikan negara ini, tak pernah bisa dihilangkan.

"Maka semangat jihad itu adalah kembali. Semangat jihad yang harus kita kembalikan adalah semangat jihad untuk terus menjaga kecintaan terhadap patriotisme dan heroisme," katanya.

Terakhir, Kiai Zamakhsyari berpesan agar semangat jihad harus terus dipertahankan sekalipun tidak lagi jihad itu dimaknai sebagai perang dengan mengangkat senjata.

"Semangat itu harus terus dijaga. Kini, kita berjihad dalam hal yang berbeda," pungkasnya.

Sebagai informasi, Tim Kirab Resolusi Jihad PWNU Jawa Barat bermalam di Islamic Centre KH Noer Ali Bekasi. Pada Kamis (18/10) pagi, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bekasi.

Kemudian diteruskan ke Karawang, Subang, Indramayu, hingga berakhir di Tasikmalaya yang menjadi puncak kegiatan Hari Santri se-Nasional tahun 2018. (Aru Elgete)

Tidak ada komentar