Banner

Breaking News

Hanif Dhakiri: Banyak yang Keliru Menilai Politik NU dan Kiai


M Hanif Dhakiri saat berkunjung ke pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Di dalam buku Pedoman Berpolitik Warga NU, M Hanif Dhakiri mengungkapkan bahwa banyak pengamat yang keliru dalam menilai sosok kiai.

"Mereka berpendapat, kiai adalah tokoh agama, tidak perlu berpolitik, kiai sebaiknya mengurus pesantren saja," kata Menteri Ketenagakerjaan RI, di dalam Kabinet Kerja ini, di dalam bukunya tersebut yang dikutip pada Ahad (17/3).

Menurutnya, berbagai asumsi yang keliru itu muncul dari seseorang atau kelompok yang kurang memahami hakikat kiai dan pengamatan keliru terhadap dunia NU yang tidak utuh.

Sebab, lanjut Hanif, ada tiga hal yang perlu diberi catatan dari asumsi-asumsi tersebut.

"Pertama, cara berpikir pengamat tersebut sepenuhnya berspektif pada barat-sekuler," kata pria jebolan Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah ini.

Dikatakan Hanif, kalau cara berpikir seperti itu terus digunakan, maka NU tidak akan pernah berkontribusi untuk masyarakat. Karena itulah kemudian Nahdliyin bakal kehilangan kebanggan, kecintaan, dan ketaatan kepada tradisi para kiai.

"Kedua,  pendapat tersebut terlalu pesimis dan tidak mencerminkan sikap pemimpin NU," ungkap pria kelahiran Semarang, 6 Juni 1972 ini.

Dalam diri pemimpin NU, imbuhnya, tersimpan pandangan hidup yang berwatak dinamis dan kecerdasan membaca tanda-tanda zaman. Sehingga, kiai seringkali bisa menyelesaikan persoalan politik dengan cara-cara yang sederhana.

"Ketiga, pendapat tersebut juga sangat dipengaruhi oleh sekuler Barat dalam melihat masalah politik," katanya. 

Hanif melanjutkan bahwa nalar sekular Barat beranggapan kalau politik adalah urusan dunia, bukan urusan agama, dan politik kiai pasti bertujuan kekuasaan.

Padahal, kata Hanif, itu merupakan pemikiran yang sangat fatal dan salah. Kiai terjun ke politik mempunyai tujuan yang mulia.

"Sebagai warga NU, saya 1000% yakin dan percaya para kiai berpolitik untuk tujuan yang mulia," pungkasnya. (Kepi MV/Aru Elgete)

1 komentar: